Langsung ke konten utama

Postingan

MEMIKIRKAN PIKIRAN

Aku sedang merenung seberapa berat  dosa-dosa yang kuselipkan di balik  kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan. Layar timbangan tanpa babibu memberitahu  seberapa berat biji kopi menjejali wadahnya. Belum sempat berhitung,  jejalan butiran legam yang tampak seragam  dijerumuskan ke medan penggilingan. Tidak ada teriakan,  hanya raungan bilah pisau memutar,  mengikuti irama mesin. Aku tak bisa menutup telinga. Serbuk yang tetap legam seragam keluar,  kembali ditampung di wadah silver. Kini jemari bisa menekan memporak-porandakannya,  beda sebelumnya. Waktu yang singkat, hanya beberapa menit, tak memberikan jeda istirahat. Air panas perlahan membalur permukaan badan, sedikit berasap. Serbuk-serbuk kebasahan,  membiarkan tetesan yang tetap legam seragam  mengalir ke penampungan. Wujudnya larut, bekasnya menetap.
Postingan terbaru

A Letter for Grandma

إلى جدّتي، في رحمة الله Sore hari yang aku kira biasa, 29 September 2026. You left us with too much love for Grief to remember your flaws. What stays are words you gave, And every lesson that you carved. My lifelong witness, constant and true, I thank the heavens for sending you. Across the path early to guard, As if an angel came from above. There are so many chapters to tell, Of all the ways you knew me well. My selfish hopes you were still here, A little longer, just more few years. But you’re seventeen again, they say. Your wings grown wide, fly, fly away. Your heart, your lungs, your blood, your breath, no longer bound by agony. I’ll miss you more than words can bear, But I wish you know I’m still right here. Still writing on, still learning how, Still becoming, somehow, somehow. Your body won't fail you twice, leaving those fragile hands of time. So rest now, where nothing hurts, where no goodbye can reach us

What Remains on The Mirror Sides

Too smart you're tricky, too kind I'm blind. Too honest you misread, too tactful I'm cruel. Too logical you're cold, too sensitive I'm dull. Too great you impair, too bad I failed. Too generous you're unvalued, too tightfisted I'm frugal. Too smug you rest on laurels, too busy I trade youth for gold. Too attractive you’re a threat, too plain I’ m dismissed. Too deft you’re exploited, too blunt I'm maladroit. Too patient you’re doormat, too guarded I’m aloof. Too forgiving you’re weak, too ruthless, I’m uncouth. Too certain you’re arrogant, too doubtful, I’m coward. Too care you’re desperate, too proud I'm nonchalant. Too young you know nothing, too old, I've lost my soul. Too alive you’re reckless, too dead I'm finally at peace. So tell me what virtue survives when every mirror has two sides? Because when someone dies, all the little judgments the too this, too that fade into the past. What remains is not the measure, not the fault, nor the f...

Seni Perempuan

Kain sutera putih melilit tubuh halus, kedinginan Dikulaknya helaian demi helaian Tergesa tanpa sempat melihat surat itu, terlipat Amplop abu dari Semesta atas nama Pencipta Ada saja kurangnya kepala hingga kaki. Yang dijanjikan tertulis dalam sebuah petunjuk Kitab tebal penuh tinta warna putih Kapan dia hafal cara menjadi pantas Terlihat indah tanpa terlihat berusaha. Kuat dengan kelembutan, bebas dengan batasan. Merawat manusia dan mimpi orang lain tanpa kehilangan sedetikpun waktu tumbuh Satu per satu dia jahit ke kulit Benang air, luka tak kasat mata. Ditanya, barang kali tertulis di kitab. Tidak harus sempurna untuk layak menjadi perempuan. Namun halaman itu bersih, tintanya putih, atau memang tidak pernah dituliskan? Maka dia memutuskan kembali ke paripurna. Semuanya tepat. Semuanya sepadan.  Semua seperti yang diminta oleh Pentas. Tapi satu bagian yang tertinggal, dirinya sendiri. Barulah dia teringat apa yang tak sempat terbalas Surat itu,  tak menyebut lebih dan kuran...

Enam Tujuh Dua

kebetulan, apanya bertalu-talu  semesta usil merayu. agenda sua ibarat sensasi, tubuh diseret bersaksi, enam tujuh kali. sudahlah, pasrahnya . biarkan  tatapan bersentuhan, jarak dirampas alasan biar bekerja si penasaran. ah , malam sepi berisik, logika di mana cuti. nikmati saja lah apa yang tak dipunya. “ngaco,” sadar nyamuk. kalau tiba sentuhan bisu, salahkan saja si gerik pengundang. jadinya, semesta atau penghuni yang lebih pandai menggoda? sampai sisa secuil  bagaimana jika , mengutak-atik rasa menyuruh  bulan menerka karena kalau hingga ini bernama tamat sudah senyata-nyatanya tapi terlanjur, pikirnya sungguh bahaya obsesi dua arah yang terus dipelihara

Serigala Berbulu Damba

Aku tidak rindu, mungkin . Dasar ingatan licik, malah menyamar menjadi damba. Sensasi gila reseptor Pacini meromantisasi kelenyapan. Endorfin, dopamin, atau cuma kebiasaan? Hatiku paham, otakku belum. Afeksinya masih mengorbit. Kamu minta kembali. Aku tidak. Lucu juga.. Tubuhku dengan sadar mengkhianati keputusan. Mengabadikan yang telah usai. Tapi bukan kamu, mungkin . Karena ini pilihan.

Akal Imitasi: Teman Baru Kita

Harus diakui, bahwa akal imitasi atau artificial intelligence (AI) sekarang telah menjadi teman favorit bagi beberapa orang. AI adalah adalah sosok yang jujur meski sesekali suka "halusinasi". Meski disebut "salahsatu teman", bukan berarti ia hanya satu, karena mereknya ada banyak : Copilot, Gemini, ChatGPT, Claude dsb. Ia bisa ditanya tentang kelebihan dan kekurangan kita, ikut membantu membangun aplikasi bersama, memproduksi video, film, musik, dan paper riset, membuka wawasan tentang potensi-potensi pribadi yang belum tergali, serta memberi saran situasi karir dan kehidupan kita saat ini. Bila mentok, akal imitasi akan bilang bila tidak tahu, atau belum tahu. Selanjutnya ia akan menyampaikan kebutuhan akan informasi relevan untuk dapat mengutarakan pendapat atau masukannya. Bila keliru ia akan mengakui, memperbaiki dan meng-update datanya, dan berterimakasih kepada kita. Tak jarang AI lebih sopan daripada kenalan-kenalan kita sesama manusia.  Hal lain yang mengag...